Pada yang didahulukan Rela menyingkirkan Pada saatnya sia-sia Pulang dengan terpaksa Hilang cahaya gelap Mencari terang Resah tidak kunjung tenang Pilih memilih bentur ego Sekian penyesalan Selesai
Yang mengetuk pada tri semester kedua Membawa harapan baru dari yang dulu sempat sirna Terang, memberi kehidupan dimana sebelumnya tidak terpikirkan Damai dalam kebersamaan penuh kehangatan Layaknya bencana, tidak ada aba-aba Meluluh lantahkan tiang-tiang tegak penuh prinsip Memadamkan cahaya-cahaya lampu penuh harapan Merusak kedamaian yang dibentuk sedemikian rupa Hancur... Tak tersisa Tanpa perpisahan Dipaksa keadaan Hilang
Wahai pejalan lihatlah dirimu Lihatlah tubuh tak berdayamu di ruang gelap itu Terbaring macam pesakitan yang putus asa dengan vonisnya Ditemani cucuran keringat dan air mata yang tak ada bedanya Cobalah bangun dan berdiri di depan cermin Lihatlah sosok yang acak-acakan tanpa harapan Penuh luka yang tak tampak Mata lebam dihajar air mata yang selalu mengalir seakan tak ada portal untuk menahannya Lihatlah! Sudah? Benar itukah dirimu wahai pejalan? Benar sosok itukah yang terlahir ke dunia dengan atribut cinta dan buah hati? Benar jasad itukah yang lolos uji kelayakan hidup atas izin Al Baadii? Jika benar, kau terlampau jauh dengan harapan Ingatlah dirimu dengan senyum terbaik yang kau miliki Dan lihat kemana senyuman itu sekarang? Mengapa hilang dan hanya tersisa bibir yang terus mengatup penuh kebisuan? Bangunlah pejalan Dunia ini masih indah dan akan tetap indah jika kau bergerak Jangan mengurung dirimu seperti ini Selangkah dua langkah akan mengubah titik terendahmu pada harapan baru...
Komentar
Posting Komentar