Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2022

SEMOGA TUHAN TIDAK TERSINGGUNG

Semakin bertambah usia manusia semakin resah Mengingat tiga perkara yang tak kunjung terlihat Antara jodoh, rezeki, dan maut Mana yang datang terlebih dahulu? Kegelisahaan tentang hari esok selalu begini Pikiran lagi-lagi mulai Kesana kemari seakan tidak ada titik henti Begitu terus tiap hari Kenapa manusia ini? Cemas akan apa manusia ini? Kehidupan yang semoga tidak menderita lagi, katanya Susah sekali menjadi manusia Apakah sang Maha Pemurah akan diam saja? Keraguan macam apa ini Sungguh, semoga Tuhan tidak tersinggung Manusia ini ragu akan ketetapanNya Semoga Tuhan tidak tersinggung Manusia ini ragu akan kehidupan selanjutnya Semoga Tuhan tidak tersinggung Manusia ini menagih kapan takdir baik Tuhan segera tiba.

TANPA PENGECUALIAN

Bukan berhenti Namun diam sebentar evaluasi Apa yang harus diperbaiki Lalu berjalan lagi Tidak harus berlari Jalan saja Asal jelas tujuannya Pasti sampai Langkah kaki lebarnya tak selalu sama Antara kanan dan kiri Apalagi beda yang punya kaki Lebih lain lagi Kaki kita adalah pengantar tujuan Bukan kaki orang lain Tegaklah berdiri diatas kaki sendiri Teguhkanlah kepercayaan dan harga diri Kita layak sukses tanpa pengecualian.

TRI SEMESTER KEDUA

Yang mengetuk pada tri semester kedua Membawa harapan baru dari yang dulu sempat sirna Terang, memberi kehidupan dimana sebelumnya tidak terpikirkan Damai dalam kebersamaan penuh kehangatan Layaknya bencana, tidak ada aba-aba Meluluh lantahkan tiang-tiang tegak penuh prinsip Memadamkan cahaya-cahaya lampu penuh harapan Merusak kedamaian yang dibentuk sedemikian rupa Hancur... Tak tersisa Tanpa perpisahan Dipaksa keadaan Hilang

UJIAN

Bukan seorang alim yang bersih dari dosa Banyak membuat perkara yang mungkin Tuhan murka Khusyuk bertaubat hanya sekelebat Besok lupa dan masih bermaksiat Oh pejalan Apa yang kau cari? Konsisten memang tidak mudah Jangan dulu menyerah Tuhan sesuai prasangkamu Ridholah atas apapun yang kau alami Berlapanglah atas masalah yang kau hadapi Mungkin Tuhan sedang menguji Diri siapa yang murah hati atas ketetapan Illahi Oh pejalan Jangan larut dalam sedih "la tahzan, innallaha ma'ana" "ala bidzikrillahi tathmainnul-qullub" Mendekatlah, jangan menjauh Walau ribuan doamu belum terwujud Tuhan terus bersamamu dengan cinta kasih

RUANG TUNGGU

Katamu beri ruang bagi dirimu dulu Jangan dipaksakan Diam dan atur strategi baru Setelah itu ayo maju Kata-kata itu seperti barang candu Bekerja keras dalam tubuhku Ku masukkan secara afirmasi Jika sehari tidak kulakukan sakau yang ku temui Kekasih, kata yang keluar dari mulutmu saja membuatku candu Apalagi kehadiranmu, itu yang ku tunggu Jangan siksa aku dengan ruang rindu Kapan waktu senggangmu? Segera hubungi aku

DISINI LAGI

Tuhan memberi petunjuk dari dua kompetisi terakhir Ya begitulah masa itu, hanya bergelut dengan olah pikir Belajar tentang bagaimana cara terbaik bersaing Dengan putra putri daerah masing-masing Aku terima sinyal Tuhan Pada persaingan posisi yang diinginkan Tuhan tempatkan aku disini lagi Untuk menjalani studi Entah kapan berakhir Masih menunggu sinyal-sinyal Tuhan yang terbaru Aku berencana, Tuhan apalagi Tidak ada negosisasi Hanya menunggu sinyal apa yang dikirim selanjutnya Untuk kehidupan yang semoga lebih baik lagi, m enurut-Nya

AH SUDAHLAH SAYANG

Pada yang saling hampa Selalu menanti Bolehkah kita susun kembali? Kenangan bersama sampai pagi Walau tertidur karena dongeng masing-masing Pada yang tidak kunjung sembuh Selalu mencoba mana ramuan paling ampuh Air mata yang kenapa lagi-lagi mengucur Dan diri yang tidak terkendali perlu ditahan peluk Agar berhenti Mari atur waktu Agar satu hari saja kita menyatu Jarak ini, ah menghambat sekali Bagi dua kehampaan yang saling menanti Ingin segera letakan kepala ini dekat jantungmu Biar ku tahu masih ada yang hidup walau dipaksa mati Biar ku mengerti bagaimana cara bertahan walau sudah babak belur dihajar keadaan Selain harapan apalagi sayang yang masih hidup? Ku rasa diri kita mati Tapi masih bisa tidur dan bermimpi Masih bisa bangun lagi di pagi hari Layakkah terbaring seperti bangkai disaat nafas masih lancar keluar masuk? Namun, sekujur tubuh seperti tertusuk dan remuk Apakah ini yang namanya dibentuk sayang? Dibentuk jadi apa? Kenapa diri hancur lebur demi kelayakan hidup Kelayakan b...

BERUTANG KASIH

Ribuan kata tidak bisa mewakili terimakasihku Untukmu yang setengah mati berjuang demi kelayakan hidupku Bagaimana kabarmu? Semoga Tuhan senantiasa melindungimu Atas segala lelah dan peluhmu Setiap tangis dan tawamu Terkait dengan sakit dan sehatmu Aku berutang kasih Aku terus berpikir apa balasan terbaik yang bisa ku berikan Pikirku pendek dan berujung semoga Tuhan yang membalas dengan kebaikan tiada henti Atas nyawa yang kau pertaruhkan Aku sangat berutang kau melakukan segala hal demi kelayakan hidupku lagi-lagi Aku titipkan pada Tuhan segala doa dan harapan Untuk dirimu yang sampai hari ini masih berjuang Salam kasih!  Semoga Tuhan tidak meninggalkan kita.

GEGERAN

Pada posisi masing-masing Menempatkan kebenaran masing-masing Yang semula dekat menjadi asing Saling tunjuk untuk menyelamatkan diri Siapa benar siapa salah Remeh tapi dianggap penting Yang penting enteng dianggap remeh Bagaimana? Hari-hari ini keharmonisan serasa hilang Tiap hari kabar buruk dan saling serang Ada apa ini? Jari jemari melebihi kecepatan cahaya Mendarat cepat tanpa banyak pikir Entah apa dan siapa yang dibela Untung apa jika sudah membela Payah

TERBANG TINGGI

Aku mabuk Pada perjalanan yang seakan membuatku pulang Aku mabuk Di sepanjang jalan bahagiaku tak berbatas Aku mabuk Menumpahkan air mata yang semula terbendung Aku mabuk Lagi-lagi aku hanya mabuk Aku gila, ternyata dirimu hanya rest area Aku mabuk, ku kira dirimu adalah tujuan terakhir Aku mabuk, aku salah memberi tafsir Aku gila Aku sadar, dan betapa sakaunya aku Walau mabuk tapi bisa optimis Sedang sadar kadang tak realistis

AGAKNYA RUMIT

Bukan tidak punya beban Namun tampak bahagia adalah pilihan Sesekali turut serta dalam keramaian Lain lagi lebih memilih kesendirian Bukan perihal nyaman atau tidak pada lingkungan sekitar Namun diri sendiri selalu berkelahi tanpa tau tempat Otak acap kali cepat loncat-loncat memperlihatkan puzzle kenangan Padahal diri tidak mau memikirkan

PASANG BADAN

Pun Raja yang membawa kejayaan Akan turut serta berperang bersama pasukan Menghancurkan kekuatan lawan Pun Raja yang dihormati dan dijunjung tinggi Akan merendah hati duduk bersama pasukan di medan perang Menyusun strategi terbaik untuk menang Pun Raja yang berulang kali menaklukan lawan Masih tetap waspada dan hati-hati Karena musuh ada dimana-mana Lalu, sudah sehebat apakah anda? Sejauh mana wilayah kekuasan dipegang? Sebanyak apa sekutu yang dipunya? Kejayaan seperti apa yang anda sumbangsihkan? Kenapa bisa tidak membumi? Terlarangkah saya mengundurkan diri? Berdosakah saya meninggalkan anda? Bolehkah saya berhenti menjadi tameng untuk orang yang tidak siap perang? Karena menang tidak bisa dicapai hanya dengan satu perlawanan Kemenangan adalah akumulasi perjuangan tiada henti Kebersamaan dalam menyusun strategi Mana mungkin maju sendiri-sendiri? Sedang lawan jumlahnya tak terhitung lagi Bolehkah saya pamit? Jika terus begini semakin rumit

TAK LAGI SAMA

Selamat datang dalam pertemuan kembali Mengapa lama? Sebagai orang yang pernah saling memahami Saling mengisi dan melengkapi Rasamu adalah rasaku juga Setelah lama, bolehkah aku menyampaikan kesan pertama bertemu kembali ? Aku kehilangan sosok dirimu yang dulu Sebelum kamu jelaskan kenapa begitu Wajahmu tidak bergelora layaknya dulu yang mendambakan perubahan Suaramu penuh kepasrahan Matamu menyampaikan kesedihan Namun kamu tetap berjalan Mengapa demikian kawan? Ada beberapa hal yang tidak perlu diseriuskan Ada beberapa hal yang perlu di lepas genggaman Jeda Berilah waktu pada diri untuk memahami takdir Ketika sekian lama bergelut dengan ikhtiar Lelah bukan? Diri perlu diperlakukan baik Layaknya diri memperlakukan orang lain Setiap diri berharga Jangan dipaksa Diamlah sejenak Untuk memanjakan diri Besok bergerak lagi Sekian Salam perubahan!

DIMANA UJUNGNYA

Gelap Sunyi Adanya cahaya seolah ilusi Imajinasiku liar  Sebab pikiran terus bertengkar Namun, aku menyebut satu nama Hanya Ia yang ku ingat lekat Untuk mendengar banyak tanya Tuhan, apalah artinya semua ini? Yang aku lakukan Yang tidak aku lakukan Yang aku berteman Yang aku bermusuhan Kan sendiri pada akhirnya Ini tidak bisa dibicarakan Tuhan Tulisan pun tidak cukup menggambarkan Tidak ada kata yang bisa mewakili kekosonganku akhir-akhir ini Dimana ujungnya? Harus baik!

PADA SIAPA

Dengan siapa harus marah? Keadaan begini atas kehendak siapa? Pengambil keputusan siapa? Yang mempertimbangkan siapa? Pada siapa harus kecewa? Yang berjanji siapa? Yang mengingkari siapa? Yang berpikir siapa? Yang bertindak siapa? Pada siapa harus geram? Ya, diri sendiri Poros segala arah Yang sering hilang arah

SELAMAT BERJUMPA

Jarak yang lama Hari dimana kepalaku dipenuhi tanya Dimana? kenapa bisa? Terang seketika Dua merpati yang terbang sendiri-sendiri Empat mata yang pinjam meminjam Akhirnya kembali Merpati tidak bisa ingkar janji Melawan takdir bukan sepasang Semesta menariknya Yang berada di sana Yang berada di sini Berjumpa Memandangi satu sama lain Masing-masing sayapnya menyimpan luka Wajahnya pilu Namun tetap tersenyum haru bahagia Berjumpa kekasihnya Atas izin semesta Selamat memadu kasih!

TENTANG TANYA

Kapan? kapan? kapan? Tuhan bosan dengan pertanyaan Cukup sekian, diserahkan Tuhan wujudkan, pertemuan Pada apa yang dimohonkan berulang-ulang Lalu usang Hilang Tanpa harapan Tuhan berikan Tuhan mengasihi Tuhan tidak bosan Tuhan sertakan Pada jiwa-jiwa yang tenang Kebahagiaan

ABADI MEMORINYA

Yang dilupakan Yang diingat Abadi memorinya Yang luka Yang sembuh Abadi memorinya Yang racun Yang obat Abadi memorinya Yang hidup Yang mati Abadi memorinya Terkenang terus terkenang

TIDAK MAU LAGI

Sunyi Hanya bisa mendengar suara sendiri Berdua bertiga bahkan beratus-ratus temanpun Riuh luar tak berarti Karena dalam diri tetap sepi Sendiri, evaluasi tiap hari Banyak hal membuat tidur selalu sebentar Banyak pikir Barangkali memang sunyi yang Tuhan mau Dan memang hanya Tuhan satu-satunya kekasih yang tak pernah menyakiti Pernah sakit dan tidak mau lagi.

TANPA SISA

Pada kacang yang melupakan kulit Mungkin bukan begitu Yang datang yang pergi Dengan seribu alasan Mungkin sedang tidak baik-baik saja Yang mana? kawanku? dimana? yang siapa? Kosong Didorong ramuan tervalidasi Dicerahkan orang terverifikasi Untuk diri yang tidak tau harus diapakan lagi Bertopeng, berupa yang lain Hilang Tersisa wujud Tanpa sisa sejati Lebur.

KURANG LEBIH DINYATAKAN BEGITU

Dengan segala kemaha besaran-Nya Memberi kelebihan pada sebagian insan Apa yang disembunyikan lama Bisa dinyatakan juga secara ilmiah Air mata ini bukan karena diagnosa Air mata ini adalah haru akan Maha Besar Tuhan Apa yang diri ini sembunyikan Apa yang diri ini tutupi Apa yang diri ini kendalikan Selesai dengan diagnosa Secara eksplisit dinyatakan begitu Diri tidak perlu repot menjelaskan Cukup dengan pernyataan Diri lelah dan butuh rehat

PADA YANG DEMIKIAN

Tidak bergejolak Tenang, diam Tapi dalam Gelap Menyakitkan Penuh racun Mematikan

BELUM MATI

Peluru mu terarah dari segala penjuru Tapi aku masih belum mati Apa yang lebih tajam dari itu? Aku beri tau Kasih ku, menembus berbagai dimensi

BAGIAN TERAKHIR

Belum tuntas masih harus dilanjut Prajurit tidak boleh mundur Hina pulang dengan kalah Bersiaplah menyerang Untuk mereka yang sudah mulai Tapi belum tuntas Tarik nafas, atur strategi Serang! Menang! Akan dikenang!