Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2022

DIAMNYA ADALAH LUKA

Dia adalah tempat penyimpanan segala peristiwa Bertahun-tahun baik suka maupun duka Mungkin dia bisa jadi mati rasa karena terlalu banyak yang diterima Sekarang sensornya tidak sesensitif dulu senggol dikit dapat merasakan Sekarang butuh waktu untuk mengamati dulu baru melanjutkan proses Jika disuruh bicara mungkin akan memilih diam Karena diamnya adalah jawaban yang tidak bisa diucapkan dengan pilihan kata sesopan apapun Karena memang sebrengsek itu kesimpulannya Ah barangkali menangispun tidak Lebih tepatnya biasa saja sudah Kebal terhadap segala macam rasa Suka duka halus kasar baik buruk Namun tetap hidup karena satu hal Harapan Berusaha tegar walau sudah banyak memar Tidak mengapa Tuhan bersama orang-orang yang berjuang.

BUNGLON

Bagaimana tidak terkejut pada sesuatu yang nampak tenang tetapi diam-diam menyusun jadwal ledakan hebat Ranjau yang diatur rapi tak kasat mata mematikan Panah-panah beracun yang disembunyikan dibalik punggung Dan manisnya menawarkan ramuan penyembuh luka Pada yang diantara garis tipis hidup dan mati Pertolongan itu telah dinanti Ah ternyata kau cerdas mengelabuhi Aku justru semakin jauh dari harapan melihat dunia lagi Bajingan sekali

BANGUNLAH PEJALAN

Wahai pejalan lihatlah dirimu Lihatlah tubuh tak berdayamu di ruang gelap itu Terbaring macam pesakitan yang putus asa dengan vonisnya Ditemani cucuran keringat dan air mata yang tak ada bedanya Cobalah bangun dan berdiri di depan cermin Lihatlah sosok yang acak-acakan tanpa harapan Penuh luka yang tak tampak Mata lebam dihajar air mata yang selalu mengalir seakan tak ada portal untuk menahannya Lihatlah! Sudah? Benar itukah dirimu wahai pejalan? Benar sosok itukah yang terlahir ke dunia dengan atribut cinta dan buah hati? Benar jasad itukah yang lolos uji kelayakan hidup atas izin Al Baadii? Jika benar, kau terlampau jauh dengan harapan Ingatlah dirimu dengan senyum terbaik yang kau miliki Dan lihat kemana senyuman itu sekarang? Mengapa hilang dan hanya tersisa bibir yang terus mengatup penuh kebisuan? Bangunlah pejalan Dunia ini masih indah dan akan tetap indah jika kau bergerak Jangan mengurung dirimu seperti ini Selangkah dua langkah akan mengubah titik terendahmu pada harapan baru...

MAAF JIKA MEMPERPANJANG MASA HARAPAN

Setiap yang terbelenggu butuh pelarian Entah pada orang, tempat, entah kegiatan Dalam skala benar salah mungkin pilihanku bisa salah Namun dalam skala baik dan tidak aku yakin pilihanku adalah baik Lebih baik begitu bukan? Aku memilih hal yang telah aku pertimbangkan matang-matang Dan aku mencoba mencintainya Kata seorang sahabat cinta itu karena biasa Jadi akan aku uji apakah benar paradigmanya Maaf jika memperpanjang masa harapan Bukan itu maksud intinya Namun aku butuh ruang untuk berdaulat sebagai manusia merdeka Yang tidak menggantungkan diri pada bahu-bahu manusia yang mungkin malah penjara Sabar Jika memang sudah waktunya Pasti kau lihat aku di tempat yang kau impikan Temani perjalananku dan nantikan.

AKU AKAN DEWASA BU

Bukan merupakan keberatan justru keromantisan Jika satu tetes keringatnya adalah satu butir nasi yang bisa ku makan Maka bukan suatu keberatan aku meringankan pekerjaannya Ah mungkin aku membuat kacau Kan aku belum besar Namun melihat dia tersenyum jengkel atas kelakuanku Membuat aku semakin ingin terus bersamanya Buk, Entah bagaimana hidup ini jika kehadiranmu tak lagi bisa kurasakan Mungkin kenangan cukup bisa menyalamatkanku dari rindu-rindu yang tak pernah selesai Namun tidak mengisi kosongnya ruang khusus untukmu Buk, Anakmu akan dewasa Akan menyelami samudra kehidupan dan akan membuat bahtera yang semoga istimewa Kata orang dewasa itu tidak menyenangkan Dalil itu mungkin benar, tapi hidup harus tetap berjalankan Bu? Kita akan lebih sering jauh, gantian aku yang berjuang untuk mimpi keluarga Tapi untuk tetap bersamamu adalah harapan terbesarku.

YANG TAK SAMPAI

Dalam temu tak semua mampu bicara Bagaimana bisa membuka mulut seperti bukan manusia Sedang mulut yang lain menyampaikan derita Mata yang lain melukiskan luka Hidupnya hancur Hatinya patah Pedih Melihatnya aku tak berdaya Tersadar betapa sempit diriku mengukur luasnya nikmat Dan tergesa meluaskan sempitnya derita Sedang yang lain lebih berat Sedang yang lain lebih patah Sedang yang lain lebih susah.