Pada yang didahulukan Rela menyingkirkan Pada saatnya sia-sia Pulang dengan terpaksa Hilang cahaya gelap Mencari terang Resah tidak kunjung tenang Pilih memilih bentur ego Sekian penyesalan Selesai
Didepanku ada tongseng, ayam, bandeng Tapi yang terlihat adalah basa-basi Ditelingaku ada "semangat pasti bisa, dulu akuuu bla bla bla" Tapi yang ku dengar adalah riuh cemburu Luka lama yang tak kunjung sembuh Melukai yang lain dengan ampuh "Biar kau rasakan bagaimana menjadi aku", pikirnya Sungguh, ku dapati manusia demikian
Entah bisikan dari mana dan atas dasar dorongan apa Mengulang-ulang pola yang sama Untuk akhir yang tidak jauh berbeda "Mau mu apa?", tanyamu Sederhana, jangan kembali sebagai kekasih yang begitu saja pergi ketika aku sedang asyik-asyiknya mencintai Kau tahu berapa banyak malam yang sudah ku lalui tanpa pembicaraan denganmu? Berapa banyak pagi sudah ku lalui tanpa energi saling mengasihi untuk bertumbuh lebih baik lagi? Berapa banyak kontrol emosi agar tidak membenci? Mengapa mudah sekali kembali tanpa menanyakan bagaimana keadaanku setelah kepergianmu, kekasih? Keadaanku tidak sederhana Tapi aku berusaha keras menyederhanakan Masih ada yang menginginkan aku tetap tersenyum Untuk itu, berbahagialah! Karena dirimu yang tersenyum yang kuharapkan datang Bukan dirimu yang penuh luka dan melukai Sembuh!
Pada yang berisik ah mengganggu pikir Mungkin disebut apatis tapi kurasa tidak begitu Idealis tetap tapi tidak seratus persen, mati Sering berkelahi dengan diri sendiri entah siapa pemenangnya Karena dalam diri banyak sekali diri diri yang lain Menarik diri karena tak tahu apa itu dan cukup tahu sudah Terlalu jauh dan kurasa diriku perlu diselamatkan terlebih dahulu Karena setahuku tidak ada asuransi untuk orang yang kehilangan dirinya
Dia adalah tempat penyimpanan segala peristiwa Bertahun-tahun baik suka maupun duka Mungkin dia bisa jadi mati rasa karena terlalu banyak yang diterima Sekarang sensornya tidak sesensitif dulu senggol dikit dapat merasakan Sekarang butuh waktu untuk mengamati dulu baru melanjutkan proses Jika disuruh bicara mungkin akan memilih diam Karena diamnya adalah jawaban yang tidak bisa diucapkan dengan pilihan kata sesopan apapun Karena memang sebrengsek itu kesimpulannya Ah barangkali menangispun tidak Lebih tepatnya biasa saja sudah Kebal terhadap segala macam rasa Suka duka halus kasar baik buruk Namun tetap hidup karena satu hal Harapan Berusaha tegar walau sudah banyak memar Tidak mengapa Tuhan bersama orang-orang yang berjuang.